Top ↑ | Archive

MAGENTA

“Cukup, Mak. Aku sudah tak sanggup lagi hidup dengan keadaan seperti ini. Sudah berpuluh tahun kita hidup susah, kapan kita merasakan kebahagiaan?” bentak Kak May pada Mamak¹.

“Tapi, May. Disiniah kita lahir dan hidup, disini jugalah kebahagiaan kita. Kau perempuan, May, hidup di luar sana sangatlah berbahaya”, Mamak mendekatkan diri dengan Kak May, hendak merengkuh tubuh anak perempuan satu-satunya.

Namun Kak May menjauh; seakan-akan ia tak pernah berniat direngkuh oleh pelukan hangat Mak. Kulihat wajah Kak May. Wajahnya menunjukkan kekesalan yang teramat.

“Jangan larang-larang Mayra lagi, Mak. Tekad May sudah bulat, May harus pergi dari kota ini. May akan mencari kerja di luar sana, mencari kebahagiaan May!” Mulut Kak May berapi-api; yang siap membakar siapa pun yang berada di dekatnya. Ia keluar tanpa pamit dari rumah membawa tas rajut berwarna ungu buatan Mak yang berisikan pakaiannya.

***

“Sudah, Mak, jangan menangis lagi. Kita doakan saja semoga Kak May baik-baik saja disana”, ku peluk Mak-ku sambil mengilap air matanya. Air mata itu turun deras dan belum berhenti sejak kepergian Kak May. Ada rona kekecewaan yang teramat besar dari raut wajah Mak, aku bisa melihat itu.

“Mayra anak perempuan Mamak satu-satunya, Mufti. Sebelum Ayahmu meninggalkan kita semua, ia berpesan kepada Mamak bahwa Mamak harus menjaga dan melindungi kalian semua. Sekarang May sudah pergi, bagaimana caranya agar Mamak bisa terus menjaga dan melindunginya?” tangis Mak semakin terisak.

Aku merasa bersalah membiarkan kakakku pergi tanpa restu Mak tadi. Semakin ku pererat pelukanku pada Mak. Dalam hati aku bertekad untuk menjemput kakakku, suatu saat nanti. Tak lama Mak tertidur dalam pelukanku, isak tangisnya perlahan memudar menimbulkan keheningan.

***

Pagi itu, seperti biasanya Mak mencuci baju milik tetangga-tetangga di sekitar rumahku. Keluarga kami sangatlah sederhana. Dulu, sebelum ayah meninggal, ayah hanyalah seorang nelayan. Dikarenakan pekerjaan yang tidak terjamin dan ekonomi yang sangat pas-pasan, aku dan Kak May akhirnya putus sekolah. Setelah ayah meninggal, aku memutuskan membantu perekonomian keluarga dengan menjadi pembersih jaring ikan milik nelayan di depan rumahku. Rutinitasku setiap pagi menunggu perahu-perahu nelayan menepi, dan membersihkan ikan-ikan kecil yang tersangkut di jaring. Upah yang kudapatkan bukanlah berupa nominal uang, namun satu plastik berisi ikan-ikan segar yang lalu kuberi ke Mak. Setengah dari ikan-ikan yang kudapatkan akan Mak jual di pasar pagi, dan setengahnya lagi untuk konsumsi kami sehari-hari.

“Sudah Mak masakan ikan teri sambal kesukaanmu. Makanlah, Mufti”, suruh Mak sambil menarik katrol sumur. Napasnya yang memburu menandakan keletihannya.

“Iya. Mak sudah makan? Perlu kubantu, Mak?” tanyaku sambil menarik kursi makan dan duduk menikmati masakan Mak.

“Sudah, tak perlu. Makanlah segera”, jawab Mak singkat.

Semenjak kepergian Kak May, Mak berubah menjadi seseorang yang pendiam dan terkadang pula ketus. Aku tak melanjutkan lagi percakapan itu. Masakan Mak yang terlihat nikmat menunggu untuk kusantap. Kulahap secepat kilat; seakan ini masakan paling enak yang pernah kumakan. Padahal ini hanya sekedar ikan teri sambal, namun bagiku ikan teri sambal buatan Mak lebih dari hanya sekedar. Selesai makan aku berpamit pada Mak dan langsung menuju rumah Faried. Semalam setelah selesai tadarusan di masjid, Faried mengatakan bahwa ia ingin menunjukkan buku sumbangan pemberian temannya di sekolah. Sepanjang perjalanan menuju rumahnya aku terus berkutat dengan pikiran; buku apa yang ingin Faried tunjukan padaku.

***

“Assalamualaikum”, kuucapkan salam sambil mengetuk pelan pintu rumahnya. Rumah Faried tampak serupa dengan rumah-rumah di sekitarnya, berbentuk khas rumah adat Aceh. Rumahnya memiliki 16 tiang sebagai penyangga yang mengokohkan bangunan ini. Dinding rumahnya dicat percampuran hitam, coklat dan kuning. Ukiran-ukiran bermotif keagamaan, flora serta fauna yang terlihat sangatlah indah. Menurutku, dibutuhkan keahlian untuk mengukirnya.

Terdengar pelan suara dentuman langkah seseorang dari dalam, kulihat daun pintu yang tadi ku ketuk bergerak ke bawah. Pintu itu terbuka, dan munculah Faried.

“Waalaikumsalam”, jawabnya. “Silahkan duduk, Muf”, menyuruhku duduk di beranda sambil tersenyum; menampakan barisan giginya yang rapih serta putih.

Aku langsung duduk di tika duek² miliknya. Aku dan Faried berteman dekat sejak kecil. Perkenalanku dengannya tepat di hari ketika tsunami menerjang negeriku. Ah…aku tak ingin lagi mengingat kejadian itu. Kejadian yang membuatku kehilangan ayah terbaikku. Sebagai seorang nelayan, ayah jarang pulang ke rumah. Sebelum berpergian melaut ayah selalu berkata padaku, “Ayah nggak lama pergi, shubuh minggu depan kau tunggu ayah disini, ayah pasti kembali. Ayah titipkan Mak dan Kak May padamu, Mufti”, ucapnya sambil tersenyum lalu mengecup keningku. Kata-kata itu yang selalu terngiang di telingaku jika mengingat ayah.

“Jadi, apa yang ingin kau tunjukan padaku? Tampaknya sangat serius, Ried”, tanyaku dengan harapan Faried menjawab pertanyaanku. Ia sering berpura-pura tak mendengar pertanyaan orang lain, dan itu menjengkelkan.

Ia tertawa sejenak. “Sebentar.” ia beranjak dari tika duek yang sama-sama sedang kami duduki menuju kamarnya.

Ku perhatikan ke sekeliling dinding beranda rumahnya. Tampaknya ada sebuah lukisan yang baru dipajang, karena kemarin saat kesini aku belum melihat lukisan itu. Aku beranjak mendekati lukisan itu. Lukisan tersebut menggambarkan sebuah rumah di atas pohon yang dikelilingi kafe-kafe. Lukisan tersebut sangatlah bagus. “Kelak, sahabatku, Faried, akan menjadi pelukis terkenal. Ia menaburkan cinta pada setiap alunan kuas di atas kanvasnya”, kataku dalam hati. Faried memang memiliki bakat yang hebat di bidang seni. Ia sering mengikuti perlombaan melukis dan selalu mendapatkan juara. Piala-piala yang ia dapatkan tertata rapi di atas meja kayu di sudut beranda.

“Muf!”, Faried mengejutkanku.

“Suka sekali mengejutkan, Ried”, kataku ketus. “Ini lukisan apa, Ried? Bagus”, tanya dan pujiku.

“Nah, inilah yang ingin kutunjukan, Muf. Yang kulukis itu ialah Pirates Bay Bali”, jawabnya sambil membuka buku yang baru diambil dari kamarnya. Buku itu dibukanya pelan layaknya membuka buku suci. Ia buka lembar demi lembar, tercipta sebuah goresan di keningnya, tampaknya ia sedang mencari-cari sesuatu.

“Nah, ini dia!” tunjuknya terlalu bersemangat.

Kulihat gambar yang ditunjukkannya. “Wah, indah sekali!”, mulutku terperangah memandangi gambar sebuah tempat yang tercetak di buku itu sambil membandinginya dengan lukisan milik Faried. Aku melihat banyak orang yang sedang bersenang-senang di gambar buku itu. Terdapat banyak rumah pohon dan orang-orang yang sedang menikmati pesona pantai yang berjarak beberapa meter dari tempat itu. Terlihat juga orang-orang yang sedang berlari-lari sembari mengembangkan senyum di mulut mereka. Tampaknya mereka sangat bahagia disana.

 “Pirates Bay Bali adalah sebuah kafe yang terletak di komplek The Bay, Nusadua,  Bali.” Faried mulai menjelaskan. “Konsepnya cukup unik, Muf, karena kita bisa makan di rumah pohon. Selain rumah pohon, ada juga area di atas kapal sehingga terasa sekali suasana bajak lautnya, dan banyak sekali unsur-unsur bajak laut”, tambahnya. “Kau tahu Bali kan?”, tanyanya yang terdengar sedikit merendahkanku, lalu tertawa lepas.

“Aku tahu, Ried”, jawabku ketus sambil memalingkan pandanganku dari wajahnya. Terakhir kudengar kata “Bali” dari guru Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) kelas 2 SDku, Bu Aminah, namanya. Bu Aminah menjelaskan bahwa Bali adalah sebuah provinsi di Indonesia, terletak di zona pembagian Waktu Indonesia bagian Tengah (WITA), dan Pantai Kutanya yang terkenal sangat indah sehingga mendatangkan parawisatawan dari belahan dunia mana pun. Hanya itu yang aku tahu. Pernah juga kulihat gambar pemandangan Bali dari siaran televisi milik tetangga yang terkaya di kampungku, biasa kami memanggilnya “Juragan”. Aku bersyukur, sekarang pengetahuanku bertambah. Ada tempat indah lain di Bali selain Pantai Kuta, yaitu Pirates Bay Bali. Aku tertawa geli di dalam hati sambil memandang kembali lukisan Faried.

“Aku hanya bercanda”, seolah ia tahu bahwa perkataannya yang tadi sedikit menyinggungku. “Aku sangat ingin kesana, Muf. Aku ingin ke Bali. Aku ingin menginjakkan kakiku disini, ya disini”, sembari telunjuknya menyentuh lukisan Pirates Bay Bali miliknya. “Dan mengapa aku melukis dua orang anak di lukisan ini? Aku ingin kau dan aku bisa menginjakan kaki disini. Duduk santai di dalam rumah pohon sambil menikmati  panorama keindahan pantai, Muf. Walau tak berdua, mungkin satu dari kita. Itulah kebahagiaan yang aku inginkan kelak. Mungkin ini terdengar seperti mimpi yang tak akan pernah terjadi. Tapi kuyakin, suatu hari kita akan disana!” ceritanya dengan semangat yang berapi-api.

Ku amati kembali lukisan ciptaan Faried. Ku balas pernyataannya dengan senyuman.

“Kita hanya anak kampung pesisir, Ried. Mana mungkin…” gumamku dalam hati.

***

Sejak saat itu, aku semakin bersemangat dan tertarik untuk mengunjungi Bali. Seakan aku melihat surga dunia disana.Tak terasa waktu berlalu cepat. Faried, sahabatku, telah tiada. Ia tak pernah kembali sejak terakhir ikut ayahnya melaut. Aku ingat sekali kata-kata terakhir yang ia ucapkan, “Jangan lupa, ya, Muf. Aku akan melaut, mengerahkan segala tenagaku untuk menangkap banyak ikan lalu akan kujual. Uangnya akan kita gunakan untuk biaya ke Bali”, katanya berapi-api. Ayahnya menarik mesin perahu sebanyak tiga kali, sebentar lagi Faried, dan ayahnya, serta beberapa teman ayahnya yang juga berprofesi sebagai nelayan beranjak pergi. Wajah mereka terlihat sumringah; seakan tak takut menantang ganasnya deburan ombak perairan dan sontakan badai yang sewaktu-waktu dapat menerjang. Terbesit suatu firasat buruk dalam pikiranku saat itu, namun ku hiraukan firasat tersebut. Firasat yang mengabarkan kehilangan; ternyata itu bukan saja pelayaran Faried yang pertama, namun juga pelayarannya yang terakhir. Faried tak pernah kembali…

***

27 Maret 2014

07.35 WIB

Bandar Udara Internasional Kuala Namu, Medan

Setelah melewati counter, kupercepat laju kakiku menuju gate menunggu pesawat yang akan terbang. Setelah melewati proses scanning, aku masuk ke dalam pesawat dan duduk di kursi milikku. Sepanjang di perjalanan, tak henti-hentinya kupanjatkan doa kepada Tuhan sambil mata terus terpejam. Ini kala pertamaku menaiki sebuah pesawat. Kakiku kaku tak dapat bergerak. Aku membayangkan bagaimana jika pesawat ini tiba-tiba terjatuh? Dan…kubuang pikiran itu jauh-jauh. Aku masih tak percaya dengan kenyataan. Seminggu yang lalu aku mendapatkan tiket pesawat gratis ke Bali, hanya karena ke-isenganku mengikuti sebuah kuis berhadiah yang dibuat oleh salah satu perusahaan yang kulihat di iklan tempo hari. Persyaratannya hanya mengirimkan sebuah opini tentang produk perusahaan tersebut dengan membubuhkan 3 lembar sachet produk itu. Kutulis opini tersebut dengan me-rental komputer di warung internet (warnet) dekat rumah Om Jon. Om Jon ialah saudara jauh Mak-ku. Ia menjemput kami dan membawa kami untuk tinggal di rumahnya di Medan sejak sebulan yang lalu. Om Jon baru tahu kabar kepergian ayahku yang sudah bertahun-tahun itu. Tadi, ketika mengantarku ke bandara, Mak memelukku erat; tak rela atas kepergianku yang padahal hanya seminggu. Terakhir ku salami tangannya dan mencium pipinya yang tampak mulai berkerut. Mak membalas dengan mengecup keningku. Air mata Mak menetes seketika seiring langkah kakiku menuju counter.

Bandar Udara Internasional Ngurah Rai, Bali

12:50 WITA

Aku berjalan keluar dari bandara. Hatiku bergumam, apa benar aku telah menginjakan kaki di Bali? Kulihat ke sekeliling, banyak turis-turis dari mancanegara berlalu-lalang. Tampak jumlahnya lebih banyak dari penduduk lokal disini. Aku segera keluar dari bandara, menuju tempat tujuanku: Pirates Bay Bali. Hal pertama yang kulakukan ialah bertanya-tanya pada orang di sekitar. Dimana dan bagaimana cara menuju Nusadua.

“Permisi”, tegurku pada seorang bapak yang sedang berdiri di ujung jalan.

Bapak itu tampaknya agak terkejut. Ia memandangiku sejenak, lalu ia menyapaku. “Om Swastiastu”, menyatukan kedua telapak tangannya sambil tersenyum.

Aku kaget, tak pernah mendengar kata itu dan tidak tahu artinya. Tampaknya ia menyadari kebingunganku.

“Itu salam sekaligus doa. Artinya adalah ‘Semoga ada dalam keadaan baik atas karunia Hyang Widhi’. Kami menggunakan kata itu untuk menyapa orang-orang yang kami jumpai”, tuturnya dengan logat Bali yang khas. “Jadi, adi³ hendak kemana? Apa yang bisa tiang4 bantu?” tanyanya.

Aku mengangguk pelan tanda mengerti. “Tiang?”, tanyaku.

“Tiang itu saya”, jawabnya.

“Oh, nama Bapak ialah Pak Tiang?” tanyaku seakan paham.

“Bukan. Tiang artinya ‘saya’ dalam  Bahasa Bali”, jawabnya sambil kembali tersenyum.

Malunya aku. Sudah sok tahu, sal. “Begini, Pak. Saya ingin ke Nusadua. Apakah Bapak tahu cara menuju kesana? Saya ingin mengunjungi sebuah tempat, Pirates Bay Bali, namanya.

“Oh, Pirates Bay Bali? Anak saya bekerja disana, namanya Umaseh Pasupati. Sudah setahun ia kerja disana. Mari saya antarkan.” ajaknya sambil kubalas dengan anggukan.

Aku menaiki kendaraanya. Sebuah sepeda motor keluaran 1990-an. Sudah tua memang, tetapi sangat antik. Di perjalanan aku baru mengetahui bahwa nama Bapak ini adalah Agus Wiraguna. Ia telah berumur 46 tahun dan seorang tunawisma. Kesehariannya hanya berjalan-jalan dan menyusuri Bali sampai ke pelosok-pelosok. Ia sangat suka berjalan-jalan. Tak lupa kukenalkan diriku dan tujuanku kesini.

***

Aku turun dari sepeda motornya ketika mesin benar-benar berhenti. Kini aku tepat berada di depan Pirates Bay Bali. Dadaku terasa sesak, tak percaya bisa menginjakkan kaki di tempat impian aku dan Faried. Tiba-tiba aku teringat Faried, sahabatku yang sudah tiada. Aku langsung melakukan keinginan Faried. Aku meloncat sambil berteriak “Ini tempat impian kita, Ried! Bukankah benar, Ried?” teriakku. Tanpa sadar aku meneteskan airmata. Bukan airmata kesedihan, tetapi airmata kebahagiaan yang telah lama ingin kukeluarkan. “Ah, andai kau ada disini, Ried” batinku berkata.

Pak Agus tampak terkejut dengan aksi yang kulakukan tadi. Ia mungkin bingung mengapa ada seseorang yang sangat heboh ketika sampai di Pirates Bay Bali. Mungkin baginya tempat ini sangat biasa, tapi bagiku tempat ini istimewa. Lebih tepatnya, bagiku dan bagi Faried.

Kupandangi Pirates Bay Bali dari depan tempat kuberdiri. Terdapat sebuah layar putih bertuliskan “Pirates Bay Bali” yang ditancapkan di tanah. Layar itu menari-menari mengikuti gerakan angin. Di sisi kiri terdapat sebuah poster betuliskan “Pirates Bay Bali”, “Café & Restaurant”, “Campfire” berwarna coklat tua dengan background api yang menyala. Kulihat sebuah kapal dengan dekorasi bak kapal bajak laut sungguhan. Di atasnya terdapat sebuah meja dan dua kursi; cocok untuk pasangan yang mendabakan suasana romantis. Dan di dalamnya terdapat banyak rumah pohon. Persis seperti yang Faried gambarkan. Di atas sana terdapat dua lelaki yang sedang menikmati santapannya. Aku bertekad untuk dapat duduk di atas sana.

Pak Agus mengajakku masuk dan mengenalkanku pada anaknya: Bli Uma. Bli Uma mengucapkan salam yang sama seperti ayahnya. Aku membalasnya dengan ucapan terima kasih dan senyuman. Ia mempersilahkanku duduk di sebuah meja yang dinamakan Pirates Camp.

“Mau pesan apa, Bli? tanyanya dengan tersenyum.

Aku bingung. Aku tak memiliki uang seperak pun di kantong.

“Pesan apa saja yang kau mau, Bapak yang bayar. Anggap saja tanda pengenalan”, kata Pak Agus sambil membuka daftar menu makanan.

“Maaf, Pak. Saya tidak enak merepotkan Bapak”, jawabku tak ingin merepotkan.

“Tak apa, Nak. Saya ikhlas.” Pak Agus berkata sambil tersenyum menyodorkan menu makanan. “Bapak seperti biasa ya”, katanya pada Bli Uma.

Kusambut buku makanan tersebut. Dalam hati aku berkata ‘Baik sekali Pak Agus ini’. Kubuka menu makanan itu. Dengan tempat yang nyaman seperti itu, bagiku harga-harga menu makanan ini terjangkau. Aku memesan beberapa makanan ringan seperti kentang goreng dan kalamari serta secangkir teh hangat.

“Ini saja?”, tanya Bli Uma padaku. Aku mengangguk.

“Saya ke dapur dahulu untuk menyiapkannya. Mohon menunggu beberapa menit saja”, ia pergi menuju dapur. Sebelumnya ia memandang ke ayahnya, lalu tersenyum. Ia tetap menjaga statusnya sebagai pelayan disini.

Aku memandang ke sebuah arena permainan anak-anak. Tertera pada sebuah layar tentang paket tantangan untuk Bajak Laut Junior menggunakan cargo nets zip wires (dengan safety prosedur), sliding pole, dan beragam lainnya. Tampak dari kejauhan, anak-anak itu sangat bahagia menikmati permainan tersebut.

Sepuluh menit kemudian pesanan kami datang. “Selamat menikmati”, kata Bli Uma.

Aku dan Pak Agus hanya membalas dengan senyuman, lalu Bli Uma pergi meninggalkan kami. Aku bercakap-cakap dengan Pak Agus sembari menyeruput teh hangatku. Ternyata dahulu Pak Agus memiliki seorang anak; adiknya Bli Uma. Anaknya telah meninggal dunia karena tenggelam saat berenang di laut. Jika masih hidup, anaknya seumuran denganku; seakan aku mengingatkannya tentang anaknya.

Pandanganku tiba-tiba mengarah kepada seorang perempuan berkerudung merah di meja kasir. Baru sejenak kupandang, perempuan itu bangkit dari kursinya. Seorang perempuan berambut panjang yang dibiarkan tergurai mendatanginya. Dari gerakan mulutnya, perempuan berkerudung itu mengucapkan terimakasih pada perempuan berambut panjang. Mungkin mereka sama-sama kasir yang baru saja mengganti shift, pikirku. Perempuan berkerudung merah itu berjalan menuju arah keluar Pirates Bay Bali. Tas rajut yang dijinjingnya berayun mengikuti gerak tangan perempuan itu. Tas rajut itu berwarna ungu yang mulai tampak usang. Sepertinya aku mengenalnya. Tas itu…milik…

“Kak May!” teriakku.

Perempuan itu menoleh ke arah suara yang memanggilnya. Ia mengerutkan keningnya sehingga ujung-ujung alis tebalnya bertemu. Lama ia tertegun lalu sontak terkejut melihatku. “Mufti?” tanyanya seakan tak percaya.

Tanpa pikir panjang lagi aku berlari ke arahnya dan memeluknya. Ia menyambut pelukanku dengan isak tangis. Kami berpelukankan sangat erat seakan tak ingin lepas lagi. Kami telah terpisahkan selama bertahun-tahun, namun kini dipertemukan kembali secara tiba-tiba, tanpa direncanakan. Tuhan, apakah ini kebahagiaan? Bukan hanya sekedar tentang harta, tahta, dan juga wanita, tetapi lebih sederhana dari itu semua. Aku berhasil menemukan kakakku, berhasil mewujudkan impian sahabatku, berhasil memenuhi keinginan Mak untuk menemukan Kak May. Semua kebahagiaan ini datang atas kehendak-Mu, dan Pirates Bay Bali ialah perantaranya. Terimakasih Tuhan, terimakasih Pirates Bay Bali!

Kulihat cakrawala mengedarkan spektrum magenta ditubuhnya. Aku meyakini, warna kebahagiaan itu seperti magenta; merah keungu-unguan. Merah melambangkan semangatku dalam mencari kebahagiaan, dan ungu ialah kebahagiaan itu.

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Proyek Menulis Letters of Happiness: Share your happiness with www.thebaybali.com & Get discovered!

Happy Ied Mubarak & Lontong Day!

Dochi’s attainment.

Dochi’s shoes.

Late post,re-markable population!

This picture is Islamic Center. The Mosque that located in Lhokseumawe City.

This picture is Islamic Center. The Mosque that located in Lhokseumawe City.